Kepemimpinan dalam Islam

Berikut ini Islam memandang kepemimpinan sebagai berikut.
 
  1. "Nabi mengatakan kepada mereka, `Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.` Mereka menjawab, `Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?` Nabi (mereka) berkata, ’Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganu­gerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.` Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan, Allah Mahaluas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.”
 
Kepemimpinan Menurut Islam llmu menjadi penting dalam kepemimpinan. Sebuah syair Arab mengatakan, "Faqidu syai 1a yu`thi." Kalau kalian tidak memiliki apa - apa, maka sulit untuk memberi kepada orang lain. Oleh karenanya, pemimpin juga dituntut untuk belajar secara terus-menerus.
 
  1. "Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa naf.su, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang - orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”
 
  1. "Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar - benarlah kamu mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu ’cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus."
 
Berikut ini adalah prinsip dasar yang penting sebagai landasan prinsip operasional kepemimpinan efektif dalam Islam.
 
  1. Hikmah. Mengajak manusia dengan penuh hikmah.
  2. Diskusi. Jika ada perbedaan, maka diskusilah dengan baik.
  3. Pelajaran yang baik. Orang akan ikhlas menerima perintah jika memahami manfaat pekerjaannya dengan baik.
 
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengelahui orang - orang yang mendapat petunjuk.”          (an-Nahl: 125)
 
  1. Qudwah. Memimpin lebih efektif dengan contoh.
 
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mcnyebut Allah." (al-Ahzab: 21)
  1. Musyawarah. Jika ada perintah yang akan dikerjakan, maka sebaiknya dilakukan dengan musyawarah.
  2. Ikatan hati. Kelembutan hati dan saling mendoakan.
  3. Empati dan kelembutan hubungan.
 
"Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu (Maksudnya: urusan peperangan dan ha1-hal duniawiah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain - lainnya). Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang - orang yang bertawakal kepada-Nya."   (Ali Imran: 159)
 
8        Keadilan. Menjadi pemimpin yang tidak memihak.
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran, yang sebaik - baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendegar Lagi Maha Melihat." (an-Nisaa: 58)
 
"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan." (an-Nisaa: 135)
 
"Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang­ - orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali - kali keben­cianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (al-Maa’idah: 8)
 
  1. Kebebasan berpikir, berkreativitas, dan berijtihad.
Rasul menerima pendapat lokasi Perang Badar dan strategi Perang Parit (Khandak) dari Salman a1-Farisi.
 
  1. Dapat memanfaatkan potensi orang lain (Rasul mempereayakan misi ke Habasyah, Yaman, dan lain-lain kepada para sahabatnya).
Dari garis besarnya terlihat betapa universalnya pandangan Islam terhadap konsep kepemimpinan. Hal ini dikarenakan ia mencakup dasar-dasar, persiapan, dan pemilihan pemimpin. Juga mencakup ciri - ciri kejiwaan dan sosial yang wajib dimiliki pemimpin, di samping tanggung jawab seni dan moral yang terletak di atas punggungnya.
 
Berikut dijabarkan tujuh fakta kepemimpinan dalam Islam.
  1. Pemimpin adalah sarana untuk menilai sukses.
  2. Hampir semua orang sukses karena bantuan orang lain (kerja sama).
  3. Setiap orang dapat menjadi pemimpin kapanpun.
  4. Esensi kepemimpinan adalah memotivasi orang yang dipimpin untuk bekerja secara maksimal.
  5. Tidak tergantung situasi.
  6. Mempelajari model kepemimpinan dalam pertempuran. Kepemimpinan dapat dibentuk, bukan bakat 
  Syarat-syarat Kepemimpinan Dalam Islam
        Kepemimpinan setelah Rasulullah SAW ini, merupakan pemimpin yang memiliki kualitas spiritual yang sama dengan Rasul, terbebas dari segala bentuk dosa, memiliki pengetahuan yang sesuai dengan realitas, tidak terjebak dan menjauhi kenikmatan dunia, serta harus memiliki sifat adil.
Pemimpin setelah Rasul harus memiliki kualitas spiritual yang sama dengan Rasul. Karena pemimpin merupakan patokan atau rujukan umat Islam dalam beribadah setelah Rasul. Oleh sebab itu ia haruslah mengetahui cita rasa spritual yang sesuai dengan realitasnya, agar ketika menyampaikan sesuatu pesan maka ia paham betul akan makna yang sesungguhnya dari realitas (cakupan) spiritual tersebut. Ketika pemimpin memiliki kualitas spiritual yang sama dengan rasul maka pastilah ia terbebas dari segala bentuk dosa.

ada 4 dasar falsafi kepemimpinan kelompok dalam Islam (syi’ah), yaitu :
       Pertama, Allah adalah hakim mutlak seluruh alam semesta dan segala isinya.. Allah adalah Malik al-Nas, pemegang kedaulatan, pemilik kekuasaan, pemberi hukum. Manusia harus dipimpin oleh kepemimpinan Ilahiyah. Sistem hidup yang bersumber pada sistem ini disebut sistem Islam, sedangkan sistem yang tidak bersumber pada kepemimpinan Ilahiyah disebut kepemimpinan Jahiliyah. Hanya ada dua pilihan kepemimpinan Allah atau kepemimpinan Thagut.
    
     Kedua, kepemimpinan manusia yang mewujudkan hakimiah Allah dibumi adalah Nubuwwah. Nabi tidak saja menyampaikan Al-qanun Al-Ilahi dalam bentuk kitabullah, tetapi juga pelaksana qanun itu sendiri. ”Seperangkat hukum saja tidak cukup untuk memperbaiki masyarakat. Supaya hukum dapat menjamin kebahagiaan dan kebaikan manusia, diperlukan pelaksana.” menurut Khomeini. Para Nabi diutus untuk menegakkan keadilan, menyelamatkan masyarakat manusia dari penindasan. Nabi telah menegakkan pemerintahan Islam dan Imamah keagamaan sekaligus.
  
       Ketiga, garis Imamah melanjutkan garis Nubuwwah dalam memimpin ummat. Setelah zaman Nabi berakhir dengan wafatnya Rasulullah SAW, kepemimpinan ummat dilanjutkan oleh para imam yang diwasiatkan oleh Rasulullah SAW dan Ahlul Baitnya. Setelah lewat zaman Nabi, maka datanglah zaman Imam. Jumlah Imam ini ada 12 (dua belas), pertama adalah Imam Ali Bin Abi Thalin, dan yang terakhir adalah Muhammad ibn Al-Hasan Al Mahdi Al Muntazhar, yang sekarang dalam keadaan gaib. Imam Mahdi mengalami dua ghaibah, yakni ketika dia bersembunyi didunia fisik, dan mewakilkan kepemimpinannya kepada Nawab al-Imam (wakil Imam), dan ghaibah kubra, yaitu setelah Ali Ibn Muhammad wafat, sampai kedatangannya kembali pada akhir zaman. Pada ghaibah kubra inilah kepemimpinan dilanjutkan oleh para faqih, hingga akhir zaman tiba.
    
    Keempat, para faqih diberikan beban menjadi khalifah. Kepemimpinan Islam berdasarkan atas hukum Allah. Oleh karena seorang faqih haruslah orang yang lebih tahu tentang hukum Illahi.

Terima Kasih telah menyempatkan untuk membaca
Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Untuk sahabat kita yang  dicintai
Smile For Our Life :)
I  Kisah - kisah Inspiratif  I

0 komentar:

Posting Komentar

next page