Hé
Jatayu dibya, wênang dharaka ring hurip, sangka ryasih ta mamitra,
bapangku kalulut têmên, tumuluy têka ring putra, ah ō dibyanta hé kaga.
Sêdêng tat mahurip nguni, bapangku mahurip hidêp, ri pêjah ta kunêng
mangke, menyak uwuh-uwuh.
terjemahan:
Hai
Jatayu yang mulia, sungguh kuat dikau memepertahankan jiwa. Karena
cinta kasihmu bersahabat terhadap ayahku lekat sekali, berkelanjutan
sampai kepada aku, puteranya. Amatlah mulia wahai dikau burung perkasa.
Tatkala engkau masih hidup tadi, ayahku kurasakan masih hidup, sekarang
ketika engkau telah meninggal, sungguh bertambah sedih hatiku.
Itulah
ucapan yang di utarakan Sang Rama dalam bahasa Sansekerta sesaat
setelah Jatayu (Burung Garuda) gugur dalam peperangan dengan Rahwana
dalam upaya menyelamatkan Dewi Sinta dalam cerita Ramayana. Jatayu
adalah contoh sosok burung Garuda yang berjiwa ksatria. Sosok Burung
Garuda juga terdapat pada relief dan patung pada candi-candi di
Indonesia sebagai titisan dewa Wisnu. Begitu lekatnya sosok burung
garuda dengan sejarah dan kultur bangsa Indonesia ini negara memberi penghargaan tertinggi kepada burung ini
dengan menetapkannya sebagai lambang negara Indonesia dan simbol satwa
langka berdasarkan Keppres No. 4 tertanggal 10 Januari 1995.
Dalam
rangka memperingati hari kesaktian pancasila tanggal 1 oktober ini,
perkenankan saya berbagi sedikit informasi tentang burung garuda yang
dijadikan lambang negara tercinta kita ini. Istilah Garuda muncul
sebatas pada sebuah cerita saja, sehingga sering dianggap sebagai mitos
dan tidak dijumpai di alam. Namun ada burung yang identik dengan burung garuda yaitu Elang Jawa (Spizaetus bartelsi). Pemerintah memberikan Apresiasi pada burung Elang Jawa sebagai Lambang Negara dan simbol satwa langka.
Saat ini Indonesia diketahui memiliki 72 jenis burung pemangsa yang termasuk dalam ordo Falconiformes yang terbagi dalam 3 famili yaitu Pandionidae, Acciptridae dan Falconidae.
Dari jumlah tersebut 11 jenis bisa dikatakan sebagai jenis yang perlu
mendapat perhatian, dimana 5 jenis diantaranya secara global terancam
punah, 5 jenis yang mendekati terancam punah dan 1 jenis kurang data.
Jenis-jenis yang perlu mendapat perhatian tersebut adalah Elang Jawa
yang menurut kriteria International Union for Conservation of Nature (IUCN).berstatus Genting (Endangered)
Sejarah
penemuan burung elang yang digunakan sebagai nama kebesaran PSS Sleman
dan logo dari Slemania ini, dimulai pada tanggal 30 April 1908 tepatnya
di daerah Jawa Barat. Saat itu Max. E.G. Bartels memperoleh seekor Elang
berjambul yang ditangkap oleh seorang penduduk di perkebunan Gunung
Melati, Jawa Barat. Pada tahun 1924 Prof E Streasemann, pakar burung
asal Jerman memperkenalkan spesies baru ini dengan nama Spizaetus bartelsi. nama ini diambil sebagai penghormatan kepada Max Bartels. Dalam bahasa Inggris, spesies elang ini disebut Java Hawk-Eagle.
Seluruh
populasi elang jawa yang masih ada terbagi menjadi populasi-populasi
kecil yang tersebar dari Ujung Kulon di sebelah barat sampai ke Alas
Purwo di sebelah timur jawa. Burung ini masih ditemukan di Tangkuban
Perahu, Gunung Sawal, dan Panaruban Jawa Barat, dan beberapa daerah lain
di Jawa seperti di Jawa Tengah (Gunung Segara / Pegunungan Pembarisan,
Gunung Slamet, Pegunungan Dieng (termasuk Gunung Prahu, Gunung Besar dan
Dataran Tinggi Dieng), Gunung Ungaran, Gunung Merapi, dan Gunung
Muria), Yogyakarta (sekitar lereng merapi) dan Jawa Timur (Pulau Sempu
Kabupaten malang Malang).
Berdasarkan data terakhir Yayasan Pribumi Alam Lestari (YPAL), diperkirakan jumlah populasi elang jawa tinggal 81-108 pasang. Pada 1997 lalu, masih ada tujuh
pasang elang jawa di sekitar Tangkubanparahu, Kab. Subang Jawa Barat.
Sementara itu, data terakhir menunjukkan populasi elang jawa tinggal tiga pasang saja. Sedangkan di sisi selatan Gunung Merapi hanya menyisakan 5
ekor. Setelah letusan dahsyat Gunung Merapi lusa belum ada data lagi
menganai burung ini. Di Jawa Tengah diperkirakan terdapat 20-28 pasang
Elang Jawa, yang tersebar di 6 daerah. Di Jawa Timur sebagaian besar
populasi terdapat di derah cagar alam pulau Sempu. Selain kerusakan
habitat, perubahan iklim, polusi, perburuan untuk perdagangan liar turut
mengancam keberadaan hewan langka ini.
Begitulah
kondisi burung yang dijadikan lambang negara kita, semoga ada upaya
konservasi yang lebih baik sehingga anak cucu kita kelak masih dapat
melihat burung ini.
Terima Kasih telah menyempatkan untuk membaca cerita kisah-kisah .
Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Untuk sahabat kita yang dicintai
Smile For Our Life :)
I Kisah - kisah Inspiratif I
I Kisah - kisah Inspiratif I




2 komentar:
asik
Posting Komentar